Dya Iganov

Rabu, 23 Oktober 2013

KEREN (HEBAT) KALAU.......

Yang ditemuin selama ngaprak jalur yang medannya luar binasa & orang hebat yang buang egonya untuk cepat sampai puncak demi temannya juga sampai di puncak
HEBAT
Kadang suka geli sendiri klo dengerin percakapan kurang lebih kaya gini:
"Si A keren loh, dia masih muda, umur belum 30 tahun udah selesai kuliah S3 di salah satu universitas bagus di luar negeri & sekarang dapat tawaran kerja di salah satu perusahaan asing terkenal disini (Indonesia). Terus ada lagi temen saya sekarang dia jadi dosen di salah satu kampus ternama, dulu dia kuliah S2 di kampus ternama di luar negeri. Teman SD saya dulu sekarang sedang kuliah S3 di Jerman, udah mau lulus"

Blaaass.....

Dalam tulisan ini, karena hasil pemikiran saya, jadi boleh donk kalau saya anlogikan "Keren" itu sama maksudnya dengan "Hebat" -maksa dikit :D

"Keren" sebenernya indikator "Keren" itu hanya terbatas sama kemampuan seseorang untuk meraih posisi tertinggi dalam jenjang pendidikan formal sajakah? kalau memang begitu, seorang wirausaha yg punya "cap" sukses di bisnisnya, kekayananya melebihi kekayaan pejabat-pejabat daerah itu ga bisa dibilang "keren" yah? hemmm...

Please be wise use word "Keren" dan mengkategorikan seseorang itu tidak keren . Karena menurut saya pribadi, penilaian itu tergantung cara pandang masing-masing. Menurut saya pribadi, saya menganggap seorang eksekutif muda, sukses dibidangnya & berhasil meraih posisi tertinggi di jenjang pendidikan formalnya itu... oke, keren, tapi biasa. Sirik? jelas bukan! Hey, lagipula saya sama sekali ga ada ambisi atau jadi suatu target dalam hidup harus bisa meraih gelar S3, S4, S5 dan Es-es lainnya.

Buat saya pribadi, seorang dengan tingkat pendidikan yang standar, bahkan lulus SMP pun tidak, tapi dia punya segudang pengetahuan yang tidak banyak orang tahu, punya kreatifitas, punya tingkat sosialisasi & adaptasi dengan tempat baru yang tinggi, baru saya bilang KEREN! Menurut saya, ilmu sebanyak apapun, sebaru apapun kalau hanya teori tanpa aplikasi buat apa? kalaupun sampai meraih gelar Profesor tetapi aplikasinya hanya terbatas selama jenjang waktu untuk mencapai gerlar Profesor saja & ketika dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan "asing" dan akhirnya kewalahan karena selama ini hanya terfokus pada apa-apa saja yang ada dalam "jalan menjadi Profesor biar keren", hei, sayang sekali kehidupanmu!

Kalau didunia perkuliahan, oke kita mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan dengan lebih "terjamin" dan juga akan mendapatkan hak kita berupa penilaian balik oleh sang pemberi pengetahuan dari hasil berupa tugas, paper, laporan, penelitian, dan apapun itu sebutannya. Lantas, apakah seseorang yang langganan mendapat nilai E, bahkan F dalam bidang eksak itu akan langsung mutlak dicap "Tidak keren". Jangan-jangan memang hitungan, rumus, dan aplikasi perhitungan itu bukan dunianya! Jangan-jangan bila dia disuguhkan issu mengenai pertumbuhan ekonomi atau bencana alam yang ada, analisis dan pendapatnya bisa lebih meyakinkan & lebih "baru" dari yang sudah-sudah? jadi, apakah seseorang dengan penilaian bidang eksak dianggap "tidak keren" tetapi di bidang lainnya merupakan "aset" ini bukan orang "keren"??

-Si A keren lulusan jurusan Teknik Informatika kampus ternama dan sekarang jadi pegawai sebagai programmer perusahaan multinasional ternama dengan gaji bukan kurs Rupiah
-Si B keren, lulusan jurusan bisnis manajemen yang terkenal mahal dan sekarang punya usaha sendiri yg juga sukses
-Si C keren, dia lulusan ilmu hukum internasional dan mewakili Indonesia dalam perjanjian/perundingan/diskusi tinternasional
-Si D keren dia seorang pengamat sosial yang sering dimintai pendapat dan analisisnya di perkuliahan umum ataupun media-media terkait issu yang sedang ada
-Si E keren, dia seorang lulusan SMK dan sekarang dengan pekerjaannya dia sudah keliling hampir setengah Indonesia dan mendapat banyak hal yang bahkan Presiden pun belum tentu bisa se-detail itu (oke, lebay dikit)
-Si F keren dia seorang lulusan S1 & sekarang dia kerja serabutan tetapi hampir semua berita/issu tentang berbagai hal di Indonesia dia tahu (istilah kerennya , ga ketinggalan berita)
-Si G keren, dia cuman seorang lulusan SD & sekarang dia pemilik perusahaan jasa transportasi yang cukup terkenal bahkan sudah buka cabang di beberapa kota di Indonesia
HEBAT 2
HEBAT 2
Dan ilustrasi orang-orang keren lainnya.

Sebenarnya yg bisa jadi ukuran "keren" -untuk saya pribadi- yg bisa dikatakan mutlak sebagai indikatornya hanya 2, seberapa besar usahanya & seberapa dekat dia dengan Sang Penciptnya, hal lainnya diluar itu, sangat relatif.
Jadi,kalau ada yang bilang supir Elf itu bukan orang "keren", bisakah kamu nyetir ELF dengan medan luar binasa dengan bermacam-macam jenis muatan dan beban mobil, waktu tempuh yang cukup lama dan harus siap bersahabat dengan segala macam cuaca & hambatan di jalan dan tentunya tanggung jawab nyawa manusia di tanganmu?

-Hanya Ngoceh, Abaikan-
HEBAT 3
HEBAT 3

Selasa, 22 Oktober 2013

“NO FACEBOOK DURING WORK HOUR” (?)

Klo inget selewat isi materi seminar tadi siang, kurang lebih tentang Geowisata, ada 1 kalimat yg mungkin bisa bikin sedikit “bernafas” untuk ber-FB-an di waktu kosong di kantor. Ya intinya (klo tepatnya apa kalimatnya, ya saya lupa >.<) saya simpulin pakai bahasa sendiri jadi kaya gini:

-Jaman sekarang teknologi sudah makin canggih, penyebaran informasi mengenai suatu objek wisata (khususnya yg berkaitan dengan Geologi) semakin mudah. Salah satunya melalui sosial media: Fb, twitter, instagram dll. Jadi, media sosial-media sosial punya peranan lebih dari hanya sekedar menginformasikan “aduh, pusiiing”, “bosan deh” dll. Tergantung pintar-pintarnya kita memanfaatkan kemajuan teknologi itu untuk apa, apakah akan dimanfaatkan sebagai alat untuk menambah wawasan dan berbagi informasi, atau hanya sebagai tempat untuk hal-hal yang sifatnya sehari-hari saja-

 Kalau saya sih, selama ini mainan FB memang untuk nyari-nyari info & kasih informasi tentang tempat-tempat yang bagus yg masih belum dikenal orang banyak. Salah satu fitur FB yg cukup membantu saya untuk hal-hal demikian fitur Grup FB. Terlepas dari banyaknya media sosial & kemajuan teknologi gadget-gadget dan kawan-kawannya yang juga punya fitur serupa, kali ini saya hanya bahas media sosial yang pertama kali saya gunakan untuk hal lain selain hiburan dan hal-hal lain yang sifatnya “kegiatan sehari-hari”. Grup FB yang saya ikuti ga lain ga bukan 1 dan beberapa grup lainnya yang isinya orang-orang yang memang hobi -bahkan keracunan- jalan-jalan. Jalan-jalan disini punya maksud yang luas, bukan jalan-jalan sekedar keliling kota ga jelas, tapi juga termasuk misalnya naik gunung, main ke pantai, kemping di pulau, touring, caving, rafting, dll semuanya ada di 1 & beberapa grup yang saya ikutin di FB.

Awal-awal sih ya cuman ikut-ikut aja ajakan-ajakan dari temen yang sebagian besar malah belum tau mukanya kaya apa, siapa si A, si B dll, lama-kelamaan beberapa teman ini mungkin perlu 1 “wadah/tempat” untuk bisa komunikasi di media sosial yang lingkupnya jauh lebih “luas dan bebas” dibandingkan pakai HP (pada jaman itu). Wadah/tempat ini ya ga lain & ga bukan adalah fitur “Group” di FB. Makin banyak yang gabung, makin banyak juga temen-temen yang posting” entah itu foto, catatan perjalanan, event invitation ataupun hanya sekedar bertanya tentang 1 objek wisata. Tapi memang tidak semua orang bisa/cocok dengan aktivitas suatu grup ataupun jenis kegiatan yang mereka adopsi sebagai ciri khas grup mereka dan lebih memilih untuk menggunakan fitur lainnya “page” ataupun mungkin di akun pribadi untuk menyajikan informasi-informasi yang berkaitan dengan Travelling.

Selain media untuk berbagi & mencari informasi, untuk saya pribadi FB juga sebagai media untuk belajar. Belajar? yap, belajar dari materi yang berhubungan dengan bidang keilmuan kaya di sekolah atau di perguruan tinggi, belajar tentang apa-apa saja yang harus, tidak boleh, sesuai, tidak sesuai berkaitan dengan berbagai macam Travelling yang ga didapet di jenjang pendidikan formal, media untuk diskusi hal-hal umum (bukan gosip artis pastinya) untuk membuka wawasan dan mengasah kemampuan untuk menyimak dan mengutarakan pendapat dengan benar bukan hanya asal nyeplos. Kenapa? karena teman diskusi kita pun ga jarang adalah “Orang asing” yang kita sendiri saja ga tau nama aslinya siapa, tinggal dimana, jangankan kita tau sifat & wataknya, mukanya aja kita ga tau, makanya kalau diskusi semacam ini secara ga langsung menuntut kita buat mencari sendiri informasi terkait bahan diskusi yg akurat ditambah dengan pengetahuan kita di bidang keilmuan dan bidang pekerjaan yang kita tekuni yg terkait topik diskusi. Intinya, biar ga malu-maluin asal nyeplos gitu aja. Dari nyimak diskusi atau terlibat langsung dalam diskusi tersebut, setidaknya kita jadi dapat hal baru, sama dengan belajar kan?

Selain diskusi tentang hal-hal umum, ga jarang juga saya tanya-tanya tentang materi di bidang keilmuan yang dipelajari di jenjang pendidikan formal tetapi tidak saya tekuni, tapi tentunya hanya hal-hal dasar atau hal-hal yang memang ingin saya ketahui saja, tidak mendetail seperti kuliah yang disusun sedemikian rupa pembagian materi dan tingkat pemahamannya dalam suatu kurikulum tertentu, bisa-bisa kabur & pingsan mendadak teman-teman yang kita minta ilmunya :v
Balik lagi ke topik awal, selain fitur “Group” di FB, ada juga beberapa orang yang lebih memilih fitur “Page” ataupun di akun pribadinya untuk memberi informasi mengenai hal-hal yang (untuk bahasannya ini) berkaitan dengan “Travelling” Darimana kita bisa tahu bahwa akun-akun pribadi siapa saja atau “Page” mana saja yang memang rutin memberikan informasi secara jelas dan berkala (aktif memberikan informasi)? Kalau saya pribadi, bersasarkan pengalaman selama ini, semuanya berawal dari fitur “Group” FB yang anggotanya bisa belasan, puluhan, bahkan ratusan. Dari 1 teman yang kita kenal secara langsung ataupun tidak langsung, kita bisa saja dapat kenalan bahkan link kemana saja atau bisa tanya ke siapa saja untuk hal-hal yang berkaitan dengan A, B, C dan seterusnya meskipun kita belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya.

Tapi, terlepas dari semua “kemudahan” untuk mendapatkan informasi dan juga bahkan belajar, kita tetap harus mengutamakan sopan santun dan membiasakan untuk berterima kasih. Jangan menganggap karena kita berinteraksi dengan orang-orang yang sebagian besar beum kita kenal secara langsung, lalu setelah kita dapat informasi/ilmu yang kita butuhkan, kita “sudahi” begitu saja tanpa ada basa-basi,  silaturahmi (menanyakan kabar mungkin) ataupun tanpa terimakasih sedikitpun. Tapi, bukan berarti setelah kita mendapatkan informasi dan untuk menjaga silaturahmi kita malah jadi terkesan pecicilan -_-. Begitu juga kalau posisi kita yang menjadi sumber informasi, tidak ada salahnya kan kita tanya dulu untuk kepentingan apa, jangan-jangan nanti disalahgunakan atau kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan malah kita yang dicari untuk tanggung jawab -__-. Bila sudah jelas maksud si penanya, kita saring informasi yang memang penting untuk diketahui, hal-hal yang akan tetap menjadi patokan, dan hal-hal/ informasi apa saja yang kemungkinan sudah tidak sama lagi dengan yang kita dapat dahulu supaya yg nanya pun tidak tambah bingung dengan penjelasan kita yang njelimet.

Jadiiii, kalau misalnya di kantor & lagi ga terlalu sibuk tapi saya kesannya kaya buka FB non stop, sapa tau sedang diskusi/rencanain kegiatan/malah lagi memulai suatu kesempatan usaha baru (bisa juga loh) bukan hanya komen sana-sini ga jelas & ngepoin fb orang -__- yaa memang sih ga ada untungnya untuk kerjaan kantor, tapi toh daripada ngepoin orang ga jelas, ngajak ngobrol temen sekantor yg lagi riweuh, nelpon, tidur, atau malah cabut kluar kantor, gpp donk kalau ngisi waktu luang sama hal-hal yang ada manfaatnya meskipun ga seberapa??

Be smart use social media
Hanya ngoceh, kalau ga nyambung atau ga ngerti abaikan

Senin, 02 September 2013

BUKAN UANG ORIENTASI AKHIRNYA

"Mas dari mana?"
"Dari Bandung."

"Kesini dagang?"
"Bukan, sedang menjelajah Indonesia saja."

"Dana dari mana? Sponsor"
"Dana sendiri. Tidak pakai sponsor."

"Wah, berarti modal uangnya banyak ya."
"Ah tidak. Yang harus banyak itu 'waktu' dan harus siap menggembel."

"Terus nanti tujuan akhirnya apa? Dibukukan? Masuk tv? Dapat uang?"
"Tidak juga."

"Keuntungannya apa kalau begitu?"
"Secara materi, aku tidak mendapatkan untung, tapi secara pikiran, wawasanku bertambah. Alasanku simple; Indonesia terlalu besar untuk aku nikmati hanya dari kotaku saja."
Kebanyakan orang mengangguk pura-pura paham tapi sebenarnya tidak mengerti kenapa aku memilih hidup seperti ini, beberapa menggelengkan kepala tanda mereka tergagas untuk melakukan hal serupa. Ah ya sudahlah.
 
Tapi anakku, jika suatu saat kau terlahir ke dunia ini, aku ingin jadi Ayah yang duduk di sebelahmu di hamparan savana, di titik triangulasi sebuah gunung, atau di dermaga sebuah pantai untuk menceritakan masa mudaku yang begitu mencintai negeri ini dengan caraku. Aku harap kau pun akan mencintai negeri dengan caramu sendiri.

-FIERSA BESARI-

Status seorang teman yang bisa dibilang baru kenal dan pertemuan langsung pun bisa dihitung jari. Tapi entah kenapa melihat yang sedang dia kerjakan sekarang rasanya melihat saya dengan segala cita-cita saya. Yap Cita-cita yang sebagian besar, bahkan hampir semua orang digambarkan dengan: "Cita-cita saya menjadi.... bla bla bla" tapi untuk saya pribadi, cita-cita saya adalah "Mengelilingi Indonesia sampai ke pelosok yang paling sulit dijangkau" bukan "menjadi seorang....."

Tapi lagi-lagi, semuanya membutuhkan uang!

-Hanya Ngoceh, Abaikan-

NAMANYA JUGA NGAPRAK

BLOG 5 
Ngaprak itu, kalau digambarkan jadi semacam menyusuri, meng-eksplor, mencari tahu secara langsung. Untuk kali ini ngaprak yang dimaksud adalah ngaprak jalur, jadi ya mencari tahu tentang satu jalur berdasarkan rasa penasaran saja, tidak ada tempat tujuan spesifik, tempat tujuannya ya jalur itu sendiri. Untuk saya ngaprak jalur selama ini lebih sering pakai motor, karena jalur yang saya lewati termasuk daerah yang "antah berantah" jauuuuh dari mana-mana, bahkan untuk ke kota terbesarnya pun ada yang memerlukan waktu 6 jam, apalagi kalau harus ke Bandung.
BLOG 1
Jadi, ngaprak jalur ini entah darimana saya dapatkan, selain dari kecil saya sudah kenal dengan yang namanya travelling, untuk travelling yang lebih spesiifik kali ini, saya sendiri entah dapat darimana, yang pasti kalau pergi ke suatu tempat, pasti saya penasaran dengan jalan yang tidak saya lewati.
Rasa penasaran saya semakin didukung dengan pengetahuan-pengetahuan yang saya dapat dari dunia travelling, seperti bagaimana caranya mendapatkan informasi, ada objek-objek apa saja didaerah tertentu, bagaimana caranya mengkoordinir agar bisa pergi ke tempat tersebut tanpa harus pergi sendiri, apa saja hal-hal yang sangat penting untuk masalah keselamatan dan keamanan. Secara tidak, langsung juga saya jadi belajar lebih mengenal daerah itu mulai dari lokasinya, berapa jalur untuk menuju tempat itu, mencari waktu yang pas untuk pergi berdasarkan membaca musim dan karakteristik di wilayah sana apakah termasuk daerah kering atau sering hujan, kapan kabut turun, titik rawannya ada dimana saja berdasarkan pembacaan peta kontur, menghafal daerah-daerah yang bisa dijadikan patokan, bahkan sampai mempelajari daerah tersebut dari segi ekonomi, geografi, dan geologi yang lebih mendetail meskipun baru beberapa bulan terakhir ini saya mempelajari hal tersebut. Tapi yang terpenting dari semuanya adalah niat.

BLOG 4

Kenapa niat? namanya saja sudah ngaprak jalur, jadi ya harus benar-benar niat untuk menyusur dari satu titik ke tempat akhir dari ngaprak ini yang fix-nya tergantung semua faktor yang ditemui pada saat itu juga, misalnya ngaprak Naringgul, bisa saja hanya sampai Balegede karena hujan deras, ada longsor, kabut tebal dll padahal tadinya direncanakan sampai ke Cidaun bahkan lebih dari Cidaun. Selain itu, harus niat karena sudah pasti akan ada diatas kendaraan (dalam hal ini motor) selama beberapa bahkan belasan jam tanpa tahu kondisi didepan itu seperti apa.
Kalau saya hal yang pertama dilakukan sebelum ngaprak adalah menentukan titik akhir dari jalur ini. Setalah dijalan dan modal GPS (Guide Penuduk Sekitar) tidak lupa memperhatikan kondisi cuaca saat itu, barulah akan tahu akan berapa lama lagi ada diatas motor untuk sampai ke tempat tujuan ditambah waktu untuk pulang lagi ke rumah, karena untuk hal ini saya lebih sering izin pergi 1 hari saja, karena masih ada larangan-larangan ke tempat tertentu dengan alasan keamanan dan keselamatan yang padahal termasuk jalur yang ingin saya susur. Jadilah "Ucing-ucingan" sama orang rumah. Tapi ada juga beberapa tempat yang tidak memungkinkan untuk pergi 1 hari, saya akan bilang akan kemana dan harus adu argumen dan gambaran mengenai info lokasi tersebut versi orang rumah yang sudah lebih dahulu tahu tentang tempat itu dan argumen saya yang membaca secara kesulurah bagaimana gambaran kondisi tempat itu dari dulu sampai sekarang.

BLOG 6

Meskipun saya kenal cukup banyak teman yang suka travelling, tapi untuk yang satu ini "langka", jadi saya aga kesulitan untuk menyusur jalur-jalur yang sudah lama saya ingin lihat langsung, ditambah lagi saya tidak bisa mengendarai sendiri motor keluar kota, apalagi saya perempuan, masih aga rawan kalau benar-benar pergi sendiri ke tempat yang benar-benar asing dan bukan sebuah kota. Tapi untunglah beberapa teman yang punya hobi "ajaib" domisilinya dekat dengan saya meskipun rutinitas sehari-hari jadi penghambat yang paling berpengaruh dan semuanya laki-laki, jadi kadang kalau saya nyusur jalur jadi perempuan satu-satunya bahkan lebih sering pergipun hanya berdua karena yang lainnya sibuk dan yang lainnya tidak punya kesamaan untuk kegiatan travelling yang satu ini.
Mungkin pertanyaan klise ini sudah sering didengar untuk teman-teman yang suka travelling "apa sih manfaatnya? atau "berapa biayanya?" Yap, pertanyaan ini berlaku juga untuk ngaprak jalur. Jujur saya juga masih aga kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi untuk travelling yang saya lakukan, apalagi untuk Ngaprak Jalur ini. Tapi, mungkin hampir sama dengan jawaban untuk travelling, Ngaprak Jalur ini manfaatnya masih untuk pribadi, seperti menambah pengetahuan saya tentang 1 wilayah di Jawa Barat, melihat langsung tempat-tempat yang tidak banyak yang tahu, merasakan sendiri bagaimana kondisi dan sensasinya berada di antah berantah dengan kondisi medan yang berbeda 180 derajat dengan jalanan di kota-kota besar yang standar-standar saja, tingkat kesulitan untuk manuver-manuver terhadap kondisi alam relatif tidak ada, lengkap dengan papan informasi penunjuk arah ataupun papan informasi nama jalan meskipun masih cukup membingungkan juga, bisa melihat langsung kondisi masyarakat Indonesia -yang katanya banyak yang miskin terutama di daerah terpencil- seperti yang sering sekali didengar di media elektronik maupun media cetak, dapat berbagai informasi yang tidak ditemukan di mesin pencarian manapun, bisa silaturahmi dengan warga disana, yang lebih luasnya bisa lebih bersyukur dengan apa yang saya punya dan apa yang ada disekitar saya sekarang.


   

BLOG 8
Yap, setidaknya kalaupun harus blusukan ke antah berantah dengan semua kesulitan yang ada,toh, saya hanya 1 kali atau mungkin beberapa kali mendatangi tempat itu dan dalam kondisi cuaca yang sudah diperhitungkan, nah bagaimana dengan mereka yang tinggal disana setiap hari, bahkan seumur hidupnya belum pernah sekalipun pergi dari tempat itu? harus setiap hari melewati jalur itu dalam segala macam kondisi cuaca yang ada karena tidak ada jalan lain, harus cukup puas dengan semua kondisi lingkungan dan pengaruh gejala alam yang bisa saja terjadi di tempat itu setiap saat. Dalam bidang formal yang saya tekuni, tidak jarang ada beberapa dari daerah-daerah tersebut yang masuk dalam pembahasan, baik itu kuliah, pekerjaan, ataupun informasi mengenai rencana pemerintah dalam program pembangunan negeri ini. Dari hasil ngaprak jalur tersebut, dengan mengkombinasi antara rencana pemerintah dengan segala tahapan-tahapannya sesuai yang sudah pernah saya pelajari dengan kondisi di lapangan pada saat ini, yang terbaru, saya bisa melihat apa-apa saja yang berubah dari tempat tersebut, apa-apa saja yang tidak akan pernah saya lihat lagi ketika suatu saat nanti melewati jalur itu lagi. 

BLOG 2

Hal lain yang saya dapat dari ngaprak jalur ini (yang masih) untuk saya sendiri adalah melatih secara tidak langsung kepekaan ingatan dan daya imajinasi saya tentang suatu lokasi, yaaaa kalau bahasa kerennya sih kemampuan navigasi dan perhitungan jarak, waktu, dan pencarian jalur alternatif tingkat bawaaaaaaaah sekali karena tidak melalui suatu pelatihan khusus bahkan formal yang diselenggarakan oleh pihak-pihak terkait. Selama ini modal saya hanya koneksi internet, peta administrasi yang ada gambaran konturnya dan mesin pencarian.
Jadi kalau mau ngaprak jalur pun tidak asal pergi begitu saja, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan seperti:
1. Menentukan dulu mau kemana
Yap, kita mau kemana dan titik awalnya darimana, karena untuk ke tempat tersebut ada beberapa jalur di peta, jadi kita tentukan dulu akan lewat mana
2. Sering-sering lihat peta
Yap, peta disini lebih bagus peta administrasi yang ditampikan dengan konturnya. Kenapa harus kontur? sebenarnya kontur hanya langkah awal untuk melihat medan seperti apa yang akan kita lewati nanti, agar kita tidak terlalu kaget. Selain kontur, perlu juga melihat keterangan lainnya. Yang harus dilihat adalah nama-nama daerah disekitar atau sepanjang jalur yang akan dilewati, lebih bagus kalau sampai ke tingkat desa, agar lebih banyak alternatif ketika bertanya dengan penduduk setempat.
Setelah mengumpulkan nama-nama daerah, sebaiknya kita bagi sendiri desa mana termasuk kecamatan dan kabupaten mana, karena cukup berpengaruh pada saat akan menentukan jalur mana yang akan diambil.
3. Setelah menetukan jalur, perlu juga mencari informasi jenis jalan yang akan dilalui. Teknologi sekarang sudah cukup canggih, marilah kita manfaatkan untuk hal yang satu ini. Untuk jalan, kita perlu lihat mana yang merupakan jalan utama, baik itu antar kota, antar provinsi, sampai antar kecamatan. Yang pertama harus kita cari adalah jalur utama antar kota-kabupaten, lalu antar ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan dari tempat yang menjadi titik akhir susur jalur kita. Setelah tau pembagian jalur-jalurnya dan melewati daerah dan administrasi kabupaten mana saja, selanjutnya melihat gambaran kondisi jalannya. Lagi-lagi kita manfaatkan kecanggihan teknologi peta, untuk yang satu ini mungkin lebih baik kalau kita pilih mode satelit atau hybrid, atau yang terbaru sekarang yg sajian penampilannya bisa 3 dimensi. Setelah mengetahui kondisi jalannya seperti apa, kita bisa balik lagi untuk menentukan jalur mana yang akan dipilih dan akan melewati daerah mana saja.
4. Persiapan terakhir adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari mesin pencarian, bisa hal-hal yang terkait sosial budaya, perkembangan ekonomi, bencana alam, gambar-gambar ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan daerah yang akan kita tuju. Yang paling mudah dan menyenangkan adalah mencari ada objek wisata apa sajakah yang ada di tempat tujuan kita.

BLOG 3

Setelah persiapan selesai, pada saat nyusur jalur juga ada "seni" nya, hal ini berlaku bagi situasi dimana kita tidak bisa menggunakan satupun perangkat elektronik yang bisa membantu. Pertama kita harus tau posisi kita ada dimana, dan lebih bagus lagi kalau pada saat persiapan kita sudah tau setelah posisi kita, kecamatan/desa terdekat kita apa. Setelah itu, sebaiknya bertanya dengan menanyakan nama desa yang terdekat dengan kita yang masuk kedalam jalur yang kita pilih, setelah itu`baru kita bertanya lokasi akhir dari susur jalan ini, baru kita bertanya nama tempat yang akan kita datangi lengkap dengan wilayah administrasinya (kalau semisal ada tempat yang bisa kita masukan di lokasi akhir susur jalur).
Kenapa harus menyebutkan banyak nama lokasi? kenapa tidak nama lokasi akhir saja? jawabannya ada 3
1. Tidak setiap orang yang kita tanya tahu tempat yang kita tuju meskipun yang kita tanya adalah warga sekitar.
2. Terkadang penamaan lokasi pada peta kenyataannya akan berbeda di lapangan. Biarpun di peta dan di lapagan ada tugu atau gapura yang jadi penanda nama suatu lokasi, tetapi belum tentu semua warga menyebut lokasi tersebut sesuai dengan nama di peta. Misalnya kita mencari Curug Air, tetapi ternyata curug yang kita maksud oleh warga setempat diberi nama Curug Angin.
3. Mungkin saja ada kondisi lain yang paling terbaru yang diketahui oleh warga setempat diluar yang kita cari, misalnya setelah mencari informasi mengenai jalur A, ternyata jalannya sedikit lebih jauh, dan ada jalur B yang lebih pendek jaraknya. Tetapi begitu kita tiba di lokasi tersebut, ternyata jalur B yang lebih pendek rawan longsor dan baru saja semalam terjadi longsor, sehingga disarankan mengambil jalur A dan bisa saja ternyata jalur A yang lebih memutar merupakan jalur yang sering digunakan penduduk setempat karena lebih aman dan sebagainya.
BLOG 7


Perhitungan waktu juga sangat perlu, karena apabila kita hanya merencanakan unruk bepergian 1  hari saja, maka setelah mendapatkan informasi mengenai waktu total untuk sampai ditujuan, kita harus mengalikan 2x untuk waktu pulang, selain itu di tengah perjalanan pun kita harus menghitung waktu, misalnya perjalanan kita tersisa setengahnya lagi, sementara perhitungan waktu tidak memungkinkan untuk kita meneruskan perjalanan sampai titik akhir dan kembali ke rumah, maka kita harus sesegera mungkin mengambil keputusan yang tepat agar meminimalisir hal-hal yang diluar perhitungan. Perhitungan perbekalan uang dan makanan juga harus menjadi pertimbangan dalam melakukan susur jalur ini, sebaiknya kita membawa air minum lebih sedari rumah untuk meminimalisir pengeluaran, untuk makanan, sebaiknya kita membeli makanan berat di daerah yang paling ramai dan membeli makanan ringan selagi masih di kota asal.
Untuk masalah biaya, saya pribadi biasanya hanya menghitung biaya untuk bahan bakar, biaya tambahan untuk semua yang berhubungan dengan kondisi motor, seperti ban, busi, rem, rantai dll yang masih bisa di "otak-atik" sendiri tanpa harus masuk bengkel sebagai biaya utama, biasanya kalau hanya  1 hari, jumlah uang yang dibawa minimal 50.000, malah terkadang nominal tersebut menjadi nominal maksimal setelah perhitungan ulang selesai ngaprak.
Untuk ngaprak jalur ini, kita tidak akan tahu bagaimana kondisi cuaca, jadi sebaiknya kita membawa baju ganti lengkap, memakai sepatu, jaket waterproof dan jas hujan. Tidak kalah pentingnya juga untuk memeriksa kondisi kendaraan bermotor dan menjaga kondisi fisik. Untuk hal-hal yang brsifat tambahan, seperti mengisi full baterai kamera, power bank, handphone juga harus diperhitungkan kalau kita ingin mengabadikan banyak moment selama perjalanan kali ini. Sekedar saran, sebaiknya minimal jumlah orang yang pergi 3 orang, atau kalau memang tidak memungkinkan, 2 orang, tidak disarankan untuk pergi sendiri terutama untuk perempuan dan menggunakan motor.

BLOG 10

Kamis, 08 Agustus 2013

NIAT ATAU HANYA 'LATAH'???

Sedikit mengutip kata-kata seorang temen "Traveling itu yang paling penting niat"
Yup, bener juga, klo udah niat, mau sejauh apapun pasti didatengin, budget berapapun pasti disanggupin, waktu selama apapun pasti diatur, akses se-susah apapun pasti dijabanin, tempatnya antah-berantah seklalipun pasti dicari, ga ada temenpun, berangkat sendiri juga jadi. Menurut saya, itu yang namanya bener-bener niat travelling. Bukan hanya karena 'latah' liat foto atau ulasan singkat tentang 1 objek wisata. Setelah liat-liat foto, baca keterangannya ini-itu, giliran baru sampe lokasi & cara sampai di tempat tujuan aja udah keluar komentar "ini dimana?", "wah, jauh yah!", "waduh, jalannya jelek banget, parah banget sampe harus trekking 1 Km!" dan lain-lain.
Harus Melipir Sungai
Harus Melipir Sungai
Manjat batu kali berlumut super licin
Manjat batu kali berlumut super licin

Maen bongkar-pasang kayu penyangga jembatan
Maen bongkar-pasang kayu penyangga jembatan
Biar mobil bisa lewat
Biar mobil bisa lewat
Jujur, saya kadang kalau mood lagi ga terlalu bagus, suka males juga sama orang yang kaya gitu. Udah heboh ngomentarin bagus, masih bersih, sepi dll, tapi pas udah giliran dijelasin akses & gimana caranya nikmatin tempat itu, langsung diem & raut muka berubah. Kalo udah gitu, ujung-ujungnya maennya ke tempat yang itu-itu lagi, yang deket, akses gampang, fasilitas banyak dll saya? tepok jidat aja deh sambil mundur melipir perlahan :p
Lumpur udah kaya sepatu saking tebelnya
Lumpur udah kaya sepatu saking tebelnya
Buka jalur, nyasar, malah nemu gua
Buka jalur, nyasar, malah nemu gua
Mobil slip sampe harus ditarik & diderek sampe pulang
Mobil slip sampe harus ditarik & diderek sampe pulang
Kadang suka gemes juga, hey, ini Indonesia bukan negara-negara Eropa yang puncak gunung yang ada saljunya pun bisa dijangkau pakai kendaraan bermotor sampai titik tertentu! Di Indonesia sih Ibu Kota negara aja jalannya bolong-bolong & banjir, gimana ke daerah pelosok coba???
Klo udah kaya gini, mau pergi ke satu tempat bener-bener harus 'seleksi' orang. Karena ga semua orang bisa & cocok pergi dengan gaya saya. Jadi, bukannya saya sombong ga pernah ngajak atau apa, tapi saya sih lebih mikir kedepannya,ini sepaham ga yah? Jadi kalau ngajak partner yang ga sepaham, bisa-bisa bubar tengah jalan dengan oleh-oleh muka ditekuk kaya meja setrikaan.
Ujan super deres non stop 6 jam, longsor, banjir, ampir masuk ke sungai, jembatan ambruk cman kayu doank, jalan butut
Ujan super deres non stop 6 jam, longsor, banjir, ampir masuk ke sungai, jembatan ambruk cuman kayu doank, jalan butut
Trek lumpur yang bikin stuck
Trek lumpur yang bikin stuck

Kluar masuk desa sampe akhirnya mentok & harus puter arah
Keluar masuk desa sampe akhirnya mentok & harus puter arah
8 Hari di mobil muterin Pulau Jawa
8 Hari di mobil muterin Pulau Jawa
Klo emang udah niat, dalam perjalanan harusnya kita bisa pakai kendaraan & hanya perlu trekking 15 menit tpi kenyataannya ada 1 dan lain hal kita harus trekking 2 jam, klo emang udah niat, udah sampai sana & segala kondisi memungkinkan, kenapa ngga??? malah kadang kalau kondisi ga memungkinkan pun dijadiiin memungkinkan klo udah niat mah, gimana weee caranya, kreatifitas & ide-ide konyol bermunculan disini (tapi tetep merhatiin faktor keselamatan juga yah). Nah, klo perginya sama tipe 'tuan puteri'?? baaah, bisa-bisa saya tinggal orang itu di tempat klo kebanyakan rewel -___-
Baru Pembukaan
Baru Pembukaan
Tepar terkapar dirumah siapapun yg dikenal sepanjang jalan
Tepar terkapar dirumah siapapun yg dikenal sepanjang jalan
Tapi klo emang niat sih asik-asik ajah
Tapi klo emang niat sih asik-asik ajah
Malahh nambah pengalaman & skill outdoor
Malahh nambah pengalaman & skill outdoor

Yang pasti dapet pengalaman & moment xlusif yg ga semua orang alamin
Yang pasti dapet pengalaman & moment xlusif yg ga semua orang alamin


Jumat, 05 Juli 2013

INDONESIA, IT’S YOURS, MINE & OURS

SUNSET PUNCAK TAMPOMAS, SUMEDANG
SUNSET MERBABU, SELO, JAWA TENGAH


SUNRISE KATUMIRI, KEC. PARONGPONG, KAB, BANDUNG BARAT

"Racuuuunnn"
Kira-kira gitulah reaksi temen-temen kalau saya mulai posting hal-hal berbau objek wisata yang pastinya masih di Indonesia . Awalnya sih hanya posting tentang beberapa objek wisata yang masih bisa dibilang belum terkenal atau bahkan malah belum pernah didenger sama sekali namanya. Berhubung masih awal banget kenal sama dunia travelling, jadi ga banyak pengalaman pribadi yang bisa diceritain, jadi yaaaa posting beberapa tempat yang memang udah jadi inceran dari jaman kuliah dulu, siapa tau ada yang sudah pernah atau malah mau kesana, jadi kan ada temennya.

CURUG CIPENDOK, BANYUMAS, JAWA TENGAH

PERKEBUNAN TEH SINUMBRA, RANCABALI, KAB. BANDUNG

SAWAH DESA TANGGEUNG, KAB. CIANJUR
Lama-lama, makin sering jalan, makin banyak tempat baru yang didatengin, makin banyak pengetahuan yang didapet, dan makin miris rasanya. Miris?? yap, dari sekian banyak tempat, pengetahuan dan pembelajaran yang tak ternilai harganya ada saja terselip suatu kata sifat "ketidakpedulian". Ketidakpedulian terhadap sesama, terhadap alam dan segala isinya, terhadap keragaman budaya yang ada, kekayaan adat-istiadat dan kearifan lokal, bahkan terhadap Sang Pencipta.
Bagaimana tidak, disuatu waktu, kami sudah susah payah atau bahasa kerennya sekarang sih "blusukan" sampai penuh lumpur, tangan-kaki-muka penuh baret-baret duri tanaman, berjalan jauh belasan kilometer, nyebrang pulau berjam-jam, bahkan terbang dengan pesawat seadanya untuk mencapai 1 tempat tujuan yang menurut kami "hidden paradise" -dan sebaiknya tetap bersembunyi- adaaa sajaa oknum yang dengan mudahnya (mudah dari semua aspek) malah dengan seenaknya merusak dengan embel-embel "memlihara", "mengelola" dll..... aah preettt!!! dan akhirnya, tempat yang kami nobatkan sebagai "hidden paradise" sudah tidak "hidden" lagi dan sudah tidak bisa dibilang "paradise" lagi karena sudah hampir sama menyerupai tempat-tempat wisata lainnya. Embel-embel tadi ga semuanya membawa dampak negatif sih, ada dampak positifnya jga, mulai dari terbukanya akses, perubahan pola perekonomian warga sekitar, peningkatan pendapatan penduduk sekitar, dll

PERKEBUNAN TEH SINUMBRA, RANCABALI, KAB. BANDUNG

TANAJAKAN SAREBU, KAB. BANDUNG
HUTAN DESA BALEGEDE, KEC. NARINGGUL. KAB. CIANJUR
Tapi tetap saja, menurut saya pribadi tidak semua "hidden paradise" bisa diperlakukan sama. Buktinya ada beberapa tempat yang sudah "disulap" sedemikian rupa, tapi ternyata tidak bisa "bertahan", daya dukung lingkungan dan juga daya tariknya sendiri tidak bisa membawa lebih banyak lagi orang untuk beberapa waktu kedepan., bahkan bila makin banyak yang datang, maka dia akan semakin tidak menarik seperti dulu, dan akhirnya, kembali sepi,tapi kali ini  dengan "rupa" yg sudah tidak alami. Yah, sayang sekali. Miris!

 
SUNRISE KATUMIRI, KEC. PARONGPONG, KAB. BANDUNG BARAT
Miris lainnya yaitu..... disaat ada 1 tempat yang lagi heboh-heboh menuju "naik daun" ternyata disana sudah "duduk manis" 1 atau 2. 3, bahkan 1 kawasan yang sudah dicap hak milik WNA & kita-kita yang hobi menjelajah cuman bisa memicingkan mata sambil geleng-geleng kepala liat didalam rumah kita ada rumah orang asing & kita sama sekali ga boleh masuk ke dalemnya.... ironis!
PERKEBUNAN TEH CIBUNI, KEC. RANCABALI, KAB. BANDUNG
CURUG CITAMBUR, KEC. KARANGJAYA, KAB. CIANJUR
CURUG CISABUK, NARINGGUL, KAB.CIANJUR
Okee, sebenernya bukan "pulau milik bule" hanya hak guna lahan di tempat itu dikuasai sepenuhnya sama si bule tadi. Tapi kepemilikan masih punya pemerintah. Tapiii, kalau saya pribadi sih eneg aja kalau ada pulau/lokasi yang di privat sama bule-bule. Mau menyalahkan? menyalahkan siapa? mau protes, tanpa kepemilikan mereka, mungkin malah tempat ini ga akan pernah ke-eksplore sama orang Indonesianya sendiri. Oke, biarlah, selama tempatnya dijaga & dirawat sih ga masalah.

CURUG CISABUK, NARINGGUL, KAB.CIANJUR
KECAMATAN NARINGGUL, KAB.CIANJUR
PERKEBUNAN TEH CIBUNI, KEC. RANCABALI, KAB. BANDUNG
Miris lainnya adalah.... ketika browsing lokasi baru untuk dieksplore, dan informasinya sangaaaat miniiimmm, sampai akhirnya mutusin buat ekplore modal nekat ke TKP, dan akhirnya ketauanlah kalau ternyata informasinya sengaja disebarkan seminim mungkin untuk konsumsi umum, karena disana mungkin ada lahan milik salah satu perusahaan swasta, sumber bahan tambang yang belum diekploitasi, dll. Kalau sudah kaya gini, harus berdamai dengan perasaan kecewa campur sedih. Kecewa, karena sudah sengaja diminimkan informasinya, ternyata milik perusahaan asing, sedih karena tempat secantik itu, kalau jadi cadangan, berarti suatu waktu harus siap "berubah wujud" Jadi, balik lagi sama postingan-postingan saya yang kadang satu kali posting bisa 5 atau lebih postingan, tujuan saya pribadi sih ga muluk-muluk harus semua orang Indonesia tau, yaaaa minimal teman-teman yang punya hobi yang sama dengan saya bisa lebih mengenal "rumahnya" sendiri, dimulai dari objek wisata, meningkat ke gambaran daerahnya, meningkat lagi ke pengetahuan umum tentang kebudayaan, adat istiadat, kebiasaan, rutinitas warga, pola kehidupan mereka, bagaiman profil lokasi tempat tinggal mereka dll. Setidaknya, dengan hanya sekedar tahu, kalau meningkat jadi tertarik, meningkat jadi penasaran, setidaknya dia mencari tahu sendiri segala sesuatu tentang tempat tersebut, jadi bisa meminimalisir secuil ke-"miris"-an yang tadi sempat saya singgung diatas.
SUNGAI KEC. NARINGGUL. KAB. CIANJUR
CURUG DESA BALEGEDE, KEC. NARINGGUL, KAB. CIANJUR
SUNRISE MAHAMERU, JAWA TIMUR
 Hanya, mungkin harus pintar-pintar memilah-milah informasi apa yang dicari, kalau sudah dapat harus bijaksana untuk menyebarluaskannya, bertanggung jawab dll. Tapi untuk yang se-level saya sih, cukup sampai dalam taraf "cukup tahu" dan usaha samampunya dan kecil-kecilan untuk membantu memajukan daerah dari modal berkunjung ke tempat-tempat wisata yang masih belum banyak dikenal tapi punya potensi untuk sektor pariwisata yang bagus. Ya, sederhana, hanya dari informasi mulut ke mulut, foto, itenerary sederhana dan tulisan-tulisan beragam krakter di blog mengenai "perjuangan" kitake tempat tersebut dan bagaimana tempat tersebut "layak" didatangi meskipun penuh perjuangan.
 Semoga saja makin banyak warga Indonesia yang mau sedikit meluangkan waktunya untuk "menengok" lagi ke dalam rumahnya ketimbang "mengintip" "rumah-rumah" tetangga yang jauuuh lebih mewah. Seperti kata pepatah "Rumput tetangga pasti lebih hijau" tapi ada juga pribahasa Sunda "buruk-buruk papan jati" artinya seburuk apapun, tapi lebih baik jika itu milik sendiri. (Kalau ga salah sih, belum buka buku pribahasa)
SUNSET PANTAI LASIANA, KUPANG, NTT
CURUG SANGHYANG TARAJE, KEC. BUNGBULANG, KAB. GARUT
CURUG OROK, KEC. CIKANDANG, KAB. GARUT
CURUG CIBADAK, KEC. CISOMPET, KAB. GARUT
CURUG TUJUH NEGLASARI, KEC. CISOMPET, KAB. GARUT
CURUG BENTANG, KEC. KASOMALANG, KAB. SUBANG